Pasukan M: Menang Tak Dibilang, Gugur Tak DiKenang

157 views

81search.net – Pasukan M: Menang Tak Dibilang, Gugur Tak DiKenang, Pasukan M: Menang Tak Dibilang, Gugur Tak DiKenang

Pasukan M: Menang Tak Dibilang, Gugur Tak DiKenang

Pasukan M adalah nama unit pasukan kecil yang dipimpin oleh Kapten Markadi, Komandan Kompi Polisi Tentara Laut dari Resimen II TRI Laut Malang.

Penugasan kepada Kapten Markadi atas petunjuk langsung dari Laksamana Muda Atmadji pada bulan Desember 1945, Komandan Markas Besar Tertinggi (MBT) TRI Laut Lawang yang berencana untuk mengirimkan bantuan memperkuat pasukan TRI Sunda Kecil & mengambil alih persenjataan Jepang di Bali.

Kapten Markadi kemudian merekrut, di antaranya, pelajar Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) di Malang, dibantu seorang guru Abdul Umar Drijopangarso & seorang murid Saestuhadi. Kekuatan awal pasukan ini adalah 50 prajurit.

Quote:
Pada bulan Januari – Maret 1946, Kapten Makardi mendampingi Kolonel Prabowo, Kolonel Moenadji & Letkol I Gusti Ngurah Rai ke Mabes TRI di Yogya untuk meminta bantuan persenjataan. Melalui Kepala Staf TRI Letjen Oerip Soemohardjo, Mabes TRI memerintahkan Laksamana M. Pardi, pimpinan MBU ALRI.
Dengan realisasi bantuan tersebut & peningkatan kualifikasi pasukannya menjadi kompi dengan kemampuan tempur, Kapten Markadi melakukan seleksi kembali dengan merekrut siswa dari Sekolah Tehnik Menengah (STM) di Malang, ditambah lagi unit2 kecil personil ALRI yang sebelumnya bertugas di Surabaya, Jembrana & Banyuwangi.

Minggu ketiga Pebruari 1946, pembentukan pasukan selesai dengan nama Pasukan M (Markadi) dengan 290 personil yang terdiri atas 3 seksi tempur & 1 seksi khusus CIS (Combat Intelijen Section). Pasukan ini mengenakan seragam Kaigun warna hitam hasil rampasan dari gudang yang pernah dikuasai tentara Jepang.

Sementara Pasukan M sedang disiapkan untuk operasi lintas laut, Pangkalan X ALRI Banyuwangi di bawah pimpinan Kapten Sriaman juga melakukan persiapan untuk mendukung pelaksanaan operasi. Pada pelaksanaannya nanti ada 1 kompi pasukan di bawah pimpinan Kapten Waroka dari Pangkalan X ALRI Banyuwangi.

Operasi lintas laut ini merupakan operasi gabungan amfibi karena melibatkan 2 matra (darat & laut) meski hanya menggunakan perahu2 nelayan tradisional untuk menyeberangi Selat Bali.

Jelang pertengahan Maret 1946, seluruh anggota Pasukan M sudah berada di Banyuwangi.

Sebelum hari H, Pasukan M melakukan latihan taktis perang & menyempurnakan organisasi sehingga pasukannya dikembangkan menjadi 4 seksi:

– Seksi 1 dipimpin Letnan Moehadji
– Seksi 2 Letnan Noerhadi
– Seksi 3 Letnan Mochtar
– Seksi 4 Letnan Mangara Simamora
– Seksi CIS Kapten Saestuhadi

Kapten Mukardi juga membentuk 3 tim mata2 untuk menyelidiki kekuatan tentara musuh & mencari tempat aman untuk pendaratan amfibi.

Tim 1: Drijopangarso & Abdul Madjid ke pantai Yeh Kuning & Pulukan.

Tim 2: Sutrisno, Ahmad Nudio & Supardan ke pantai Melaya & Candikesuma.

Tim 3: Letnan M. Simamora & Gatot Suwondo serta 5 prajurit ke Celukan Bawang.

Pendaratan pasukan direncanakan pada 3 atau 4 Maret 1946 tergantung sikon di lapangan.

Pemberangkatan akan dilindungi artileri pertahanan pantai (kust artillerie) dengan 2 pucuk meriam kaliber 75 mm.

Tanggal 3 April 1946 Pasukan Waroka berkekuatan 160 prajurit berangkat dengan 3 kapal tunda, 3 perahu mayang, 3 perahu telepak & 3 perahu jukung, dalam 3 trip, mulai pukul 20.00, pukul 22.00 dan pukul 24.00.

Beruntung semua anggota pasukan mendarat dengan selamat karena tidak ada patroli kapal Belanda yang beroperasi di perairan Grokgak & Celukan Bawang. Selanjutnya Pasukan Waroka menuju desa Musi sebagai lokasi konsolidasi.

Quote:
Sementara Pasukan I Gusti Ngurah Rai dengan kekuatan 45 prajurit bergerak bersamaan harinya dengan Pasukan Waroka, dari Muncar jam 23.00 dengan 15 perahu jukung.

Naas, dalam perjalanan formasi perahu tercerai berai karena angin kencang, 7 perahu termasuk yang ditumpangi I Gusti Ngurah Rai tertinggal.
Iring2an 2 perahu di belakang ternyata menarik perhatian patroli kapal Belanda RP103 & RP104 dari Gilimanuk. Saat mendekati & memutari salah 1 perahu yang ditumpangi 3 bersaudara Cokorda Oka Sudarsana, Cokorda Oka Rai Gambir & Cokorda Dharma Putera, patroli kapal Belanda mencurigai penumpang di kapal itu adalah pejuang Republik lalu menembakan senjatanya. Dalam insiden ini Cokorda Oka Rai & Cokorda Dharma Putera gugur sedangkan Cokorda Oka Sudarsana ditawan Belanda.

Iring2an perahu lain yang mendengar suara tembak menembak akhirnya memutar haluan kembali ke Muncar sementara anggota pasukan yang lain sudah berhasil mendarat di Pulukan lalu menginap semalam untuk menunggu pasukan yang putar balik termasuk I Gusti Ngurah Rai.

Pelayaran yang ke 2 sisa Pasukan I berbarengan dengan Pasukan M dari pelabuhan Boom Banyuwangi pada tanggal 4 April 1946 berjalan mulus tanpa kendala. Sebenarnya sisa Pasukan I Gusti Ngurah Rai terhindar dari bentrok dengan patroli kapal Belanda karena saat yang sama terjadi pertempuran antara patroli kapal Belanda dengan Pasukan M.

Setelah meninggalkan pelabuhan Boom, perahu yang ditumpangi Moehadji & Simamora bergerak lebih cepat dari kapal lainnya & mendarat lebih dulu di pantai Pebuahan.

Sementara 2 perahu lainnya yang ditumpangi Kapten Markadi terombang ambing. Saat hampir sampai pada fajar 5 April 1946 tiba2 muncul patroli LCM (Landing Craft Mechanized) mendekat. Kapten Markadi memerintahkan pasukannya untuk lepas seragam & sembunyikan senjata tapi tetap siap siaga.

Pada jarak kira2 5 meter, 2 tentara Belanda mengarahkan mitraliur Watermantel & memerintahkan awak kapal untuk lempar tali & berdiri di ujung kapal dalam bahasa Belanda. Kapten Markadi yang mengerti bahasa Belanda mencoba mengulur2 waktu agar kapal tidak ditarik LCM ke Gilimanuk.

Tiba2 kapal saling menempel karena tiupan angin, Kapten Makardi segera melempar granat ke LCM & lompat ke laut setelah sebelumnya sempat memberikan perintah tembak.
Quote:
Menurut catatan sejarah, inilah pertempuran laut pertama antara tentara RI dengan Belanda setelah proklamasi.
Beruntung karena posisi LCM lebih tinggi dalam posisi menempel tembakan mitraliur dari LCM dalam sudut mati.

Kapten Makardi berhasil naik lagi ke perahu & menginstruksikan lempar granat ke LCM. Karena frustasi tembakannya meleset terus, LCM menabrak perahu Pasukan M untuk menenggelamkannya tetapi hanya berhasil menjatuhkan anggota Pasukan M ke laut.

Tidak lama kemudian granat meledak di atas LCM & diduga menewaskan 4 tentara Belanda. Sementara di pihak Republik, 1 prajurit a/n Sumeh Darsono gugur dan Tamali terluka.

Pertempuran laut itu diberitakan oleh kantor berita Antara pada tanggal 17 April 1946 dengan judul

“Pertempoeran Laoet di Selat Bali”

Terima Kasih Atas kunjungan anda di halaman  Pasukan M: Menang Tak Dibilang, Gugur Tak DiKenang, Jangan lupa untuk Membookmars Halaman ini jika  Pasukan M: Menang Tak Dibilang, Gugur Tak DiKenang berguna untuk anda.

Leave a reply "Pasukan M: Menang Tak Dibilang, Gugur Tak DiKenang"